Ruang yang Mengajak Anak Kembali ke Buku, Pingtan Book House

Daftar Isi
Featured Image

Mengapa Ruang Baca Perlu Dirancang Berbeda?

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, anak-anak kini lebih akrab dengan layar digital daripada buku fisik. Hal ini membawa tantangan baru bagi ruang baca untuk tetap menarik dan relevan. Buku tidak cukup hanya disusun rapi di rak, tetapi perlu dihadirkan dalam bentuk yang mampu memancing rasa penasaran dan membuat anak ingin masuk, duduk sebentar, lalu betah berlama-lama sambil membuka halaman demi halaman.

Minat baca anak tidak hanya bergantung pada kualitas buku itu sendiri, tetapi juga pada bagaimana mereka menemukan dan mengaksesnya. Ruang baca yang terlalu formal sering kali membuat anak merasa harus “diam dan tertib”, padahal proses belajar mereka justru melalui gerakan, pertanyaan, dan eksplorasi. Jika ruang tidak memberi kebebasan tersebut, buku akan terasa kurang menarik dan tidak bisa menjadi bagian alami dari kehidupan mereka.

Banyak perpustakaan masih identik dengan suasana sunyi dan aturan ketat, yang bisa terasa membatasi rasa ingin tahu anak. Membaca akhirnya dianggap sebagai aktivitas serius dan terpisah dari kegiatan sehari-hari, bukan bagian dari permainan dan pembelajaran. Oleh karena itu, ruang baca perlu dipandang sebagai ruang pengalaman yang mampu mengajak anak masuk tanpa merasa canggung, memberi mereka kebebasan untuk bereksplorasi, dan menciptakan kedekatan emosional dengan buku.

Apa Itu Pingtan Book House?

Pingtan Book House adalah perpustakaan anak yang berada di desa Pingtan, Tiongkok, dan dirancang oleh Condition_Lab. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang bermain dan berkumpul bagi anak-anak sekitar. Suasananya terasa akrab dan terbuka, sehingga siapa pun yang masuk akan merasa diterima sejak awal.

Daya tarik utama dari Pingtan Book House terletak pada desain interior yang unik. Dua tangga spiral dari kayu saling berkelindan dan memiliki fungsi ganda sebagai jalur sirkulasi, tempat duduk, serta rak buku. Anak-anak bebas naik, duduk, atau bersembunyi di sela struktur ini, sehingga kegiatan membaca terasa seperti bagian dari petualangan, bukan kewajiban.

Kayu dipilih sebagai material utama karena merujuk pada arsitektur rumah panggung tradisional setempat. Selain memberikan kesan hangat, penggunaan kayu juga menjaga hubungan bangunan dengan lingkungannya. Pingtan Book House hadir sebagai ruang yang menyatu secara alami dengan kehidupan desa dan komunitasnya, bukan sekadar bangunan yang mencolok.

Bagaimana Desain Menghidupkan Pengalaman Membaca?

Desain Pingtan Book House tidak meminta anak untuk duduk diam dan membaca dengan cara yang kaku. Sebaliknya, ruang ini memberi kebebasan bagi anak untuk bergerak, memilih sudut favoritnya, dan menemukan buku sambil berkeliling. Tangga, lantai, dan rak dirancang agar menyatu, mendorong anak untuk bereksplorasi dan menjadikan membaca sebagai pengalaman yang alami.

Pencahayaan alami menjadi elemen penting dalam menciptakan suasana ruang. Bukaan dan jendela diatur sedemikian rupa sehingga cahaya lembut masuk sesuai dengan aktivitas anak di dalam bangunan. Kehadiran cahaya ini membuat ruang terasa hangat dan menenangkan, sekaligus menciptakan suasana membaca yang lebih intim dan menyenangkan.

Lebih dari sekadar memenuhi fungsi, desain Pingtan Book House menunjukkan bagaimana arsitektur dapat membangun hubungan emosional antara anak dan buku. Ruang tidak lagi menjadi latar pasif, tetapi ikut berperan dalam proses belajar. Dari sini terlihat bahwa ketika ruang dirancang dengan empati, kebiasaan membaca dapat tumbuh dengan sendirinya dan bertahan dalam jangka panjang.

Posting Komentar