HAPS Entertainment Juara Musik Kolintang PYC, Rebut Piala Lis Purnomo Yusgiantoro

Daftar Isi
Featured Image

Perayaan Kolintang di Purnomo Yusgiantoro Center

Pada acara lomba kolintang yang digelar di Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), HAPS Entertainment berhasil menjadi juara utama. Lomba ini memiliki tema “Senandung Ansambel Kolintang untuk Dunia” dan memperebutkan Piala Bergilir Lis Purnomo Yusgiantoro. Acara ini menampilkan lima finalis yang berkompetisi dalam format musik klasik menggunakan alat musik kolintang.

Finalis yang terlibat dalam lomba ini adalah Sanggar Ma’zani Sombor, Squad Kolintang Spensabaya, BeeLintang, The Fore, dan HAPS Entertainment. Setiap kelompok membawakan lagu-lagu klasik yang telah dipilih sebelumnya. HAPS Entertainment menunjukkan kemampuan yang luar biasa dengan membawakan lagu wajib Piano Concerto No.1, lagu nasional Indonesia Jaya, serta lagu bebas Rondo Alla Turca "Turkish March". Penampilan mereka mampu memukau sekitar 200 penonton yang hadir.

Dewan juri yang terdiri dari Ananda Sukarlan, pianis dan komposer internasional; Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama PT Pertamina (Persero); dan Purwa Caraka, musisi, komposer, serta pendidik musik senior Indonesia, sepakat menetapkan HAPS Entertainment sebagai pemenang. Mereka mendapatkan hadiah berupa piala dan uang tunai sebesar Rp 100 juta.

HAPS Entertainment berhasil mengalahkan empat finalis lainnya, yaitu The Forte, Sanggar Maazani, Spensabaya, dan Beelintang. Keberhasilan ini menjadi penghargaan bagi mereka yang telah berusaha keras dalam menampilkan musik klasik dengan alat musik tradisional.

Lis Purnomo Yusgiantoro, yang juga dikenal sebagai tokoh kolintang nasional, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya lomba musik kolintang pertama di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa acara ini merupakan bentuk apresiasi terhadap alat musik tradisional kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara. Lis juga aktif dalam upaya memperjuangkan pengakuan UNESCO terhadap kolintang sebagai warisan budaya tak benda dunia.

Menurut Lis, kolintang memiliki nilai historis dan musikal yang sangat tinggi. Namun, belum pernah ada kompetisi yang secara formal menempatkan kolintang di panggung musik klasik era 1600–1900. Lomba PYC memberikan ruang bagi para pemain kolintang untuk menampilkan kemampuan interpretasi musik klasik Peter I. Tchaikovsky: Piano Concerto No. 1, sekaligus lagu nasional dalam format ansambel.

Keberadaan juri lintas disiplin ilmu pengetahuan menjadikan kompetisi ini tidak hanya prestisius, tetapi juga membuka ruang dialog antara tradisi dan modernitas. PYC berupaya menjawab tantangan regenerasi dan apresiasi pada musik tradisional di tengah arus modernisasi.

Lomba ini disajikan bagi kelompok Kolintang di seluruh Indonesia dengan harapan dapat mendorong tumbuhnya bibit-bibit musisi Kolintang baru, membuka ruang apresiasi bagi masyarakat, menjaga keberlangsungan Kolintang sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, dan menghadirkan kolintang ke panggung musik internasional.

Sementara itu, Ketua Umum PYC Filda Citra Yusgiantoro menjelaskan bahwa kompetisi terdiri atas dua tahap. Tahap pertama adalah seleksi video dengan sistem eliminasi hingga terpilih lima finalis. Tahap kedua adalah final, di mana kelima finalis akan adu kemampuan dan keterampilan untuk menjadi kelompok terbaik.

Filda secara khusus mengajak seluruh elemen masyarakat, pelaku seni, pemerhati budaya, dan generasi muda untuk mendukung upaya pelestarian kolintang melalui kompetisi berhadiah Rp100 juta bagi pemenang. Ia bangga dapat menghadirkan musik klasik dalam format Kolintang. Ajang ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam perjalanan musik tradisional Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Posting Komentar