Ruang Tenang di Klaster Kuliner Cirata

Pengalaman Makan di Klaster Wisata Kuliner Cirata
Ketika Fina akhirnya memutuskan untuk pergi ke Klaster Wisata Kuliner Cirata, ia merasa seperti sedang menghadapi sebuah tantangan. Sebagai seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun, ia selama ini hanya melihat tempat ini melalui video-video pendek yang terus muncul di media sosial. Tapi hari itu, ia ingin membuktikan bahwa apa yang ia lihat benar-benar ada. Dengan suaminya, ia memutuskan untuk menemui langsung tempat yang selama ini hanya menjadi impian.
Saat tiba di sana, suasana langsung berbeda dari yang ia bayangkan. Di pintu masuk kawasan kuliner, segala sesuatu terasa lebih hidup dan penuh warna. Pedagang-pedagang mulai mendekati pengunjung dengan berbagai tawaran, mulai dari ikan segar hingga camilan khas. Ada juga para pengamen yang mengikuti langkah mereka. Fina sedikit merasa tidak nyaman, karena banyaknya tawaran yang datang tanpa henti. Namun, ia memilih untuk membeli beberapa barang meskipun tidak benar-benar membutuhkannya. Ia sadar bahwa menolak bisa membuat orang lain merasa kehilangan penghasilan.
Di tengah keramaian, Fina dan suaminya memilih meja yang paling atas, dekat dengan tepian. Angin datang tak beraturan, kadang kencang, kadang lembut, tapi setiap hembusan membawa pesan yang sama: santai dan perlahan. Suasana yang tenang ini memberikan ketenangan yang ia butuhkan. Di sini, ia merasa seperti sedang berada di tempat yang bisa menenangkan hati, bahkan sebelum ia menyadari kebutuhan dirinya sendiri.
Setelah diberikan daftar makanan oleh seorang wanita paruh baya, Fina memesan paket lengkap untuk dua orang. Harganya sekitar seratus tiga puluh ribuan, yang terasa murah karena porsinya sangat besar. Ikan nila bakar yang datang benar-benar besar, dagingnya tebal dan kulit bakarnya menunjukkan gurat-gurat hitam yang mengisyaratkan bumbu yang meresap dalam. Aroma ikan bakar datang lebih dulu, seperti kepulan asap yang membawa cerita dari arang, wajan, dan bumbu-bumbu yang dipijarkan pelan.
Rasanya? Medok, gurih, dan tidak pelit bumbu. Sambal lalabnya memunculkan wangi yang khas, dan cabe yang menusuk hidup sudah menunggu untuk diaduk. Nasi liwetnya terasa pulen dan lembut di mulut. Di sebelah mereka, satu keluarga besar sedang karaokean. Biasanya Fina tidak suka mendengarkan musik dengan ritme keras, tetapi hari itu alunan nada yang bersenandung membuatnya terhibur. Lagu-lagu yang dinyanyikan memantul ke permukaan air, membentuk gema yang lembut.
Meski waktu menunggu cukup lama, Fina tidak merasa terganggu. Justru, lamanya menunggu memberi waktu untuk melihat Waduk Cirata lebih lama dan berbicara tanpa terburu-buru. Suasana yang hangat mulai menyelinap masuk ke dalam tubuhnya. Namun, ada satu hal yang membuat wisata kuliner ini terasa kurang, yaitu pedagang dan pengamen yang terlalu aktif. Mereka terlalu dekat dalam mengikuti jejak pengunjung, yang justru menciptakan rasa ketidaknyamanan.
Namun, meskipun ada kekurangan tersebut, Fina tetap merasa puas. Ia merekomendasikan tempat ini kepada banyak orang dalam media sosialnya, terutama kepada teman dekatnya. Di sini, siapa pun yang ingin makan murah, enak, dan kaya akan suasana semua itu sudah terangkum menjadi satu. Pemandangan yang ditawarkan bukan hanya sebagai visual pendukung, tetapi pemandangan menjadi bagian dari hidangan itu sendiri.
Selain itu, biaya masuk yang murah juga menjadi salah satu kelebihan. Sepuluh ribu untuk satu mobil dan lima ribu untuk satu motor, biaya parkir juga murah. Fina menganggap hal itu sebagai bentuk sedekah kecil untuk membantu warga sekitar yang hidup dari denyut wisata kuliner tersebut.
Mungkin itulah alasan terbesar mengapa Klaster Wisata Kuliner Cirata layak dikunjungi. Tempat ini tidak berusaha menjadi lebih dari yang seharusnya, tetapi juga tidak untuk menjadi kurang. Di sini, kesederhanaan mengikat memori semua orang yang berkunjung. Ikan bakar, angin waduk yang lembut, suara pengunjung yang berbahagia, dan pemandangan yang memberikan menjadi ruang bagi siapa pun untuk memanjakan matanya.
Hari itu bagi Fina bukan sekedar kuliner biasa. Ia menepati janji kepada dirinya sendiri dan membuktikan bahwa beberapa keinginan memang harus diberi waktu untuk menjadi kenyataan. Cirata, dari segala riuh, hangat, dan kesederhanaannya, menjadi saksi bisu bahwa harapan yang sederhana sering kali menghasilkan kebahagiaan dalam kebersamaan yang paling nyata.
Posting Komentar