Perselingkuhan Ubah Cara Otak Bekerja, Ini Alasan Pemulihan Emosinya Tak Pernah Cepat

Daftar Isi
Featured Image

Realitas Emosional Setelah Dikhianati

Perselingkuhan sering kali menjadi pengalaman yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan. Pengkhianatan ini tidak hanya menghancurkan kepercayaan, tetapi juga meninggalkan luka psikologis jangka panjang. Luka ini dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, hingga kemampuan seseorang untuk percaya lagi pada cinta. Banyak orang bertanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari luka sedalam ini, dan apakah pemulihan benar-benar mungkin terjadi?

Setelah dikhianati, banyak orang mengalami reaksi emosional yang intens. Mereka bisa melalui fase yang mirip dengan proses berduka, seperti penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan akhirnya penerimaan. Proses ini tidak selalu berurutan dan bisa berulang, tergantung kondisi emosional masing-masing individu.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Post-Infidelity Stress Disorder (PISD), yaitu bentuk trauma akibat perselingkuhan. Gejalanya bisa berupa kilas balik secara tiba-tiba, mimpi buruk, kecemasan berlebihan, sulit tidur, hingga munculnya rasa curiga yang konstan terhadap pasangan atau orang lain.

Dampak Psikologis Jangka Panjang pada Korban Selingkuh

Banyak korban perselingkuhan mengalami gangguan psikologis jangka panjang. Luka emosional yang mendalam bisa berkembang menjadi stres kronis, depresi berkepanjangan, gangguan makan, dan gangguan tidur. Di sisi lain, perselingkuhan juga dapat memengaruhi cara kerja otak. Ketika hubungan aman, otak memproduksi hormon kebahagiaan seperti dopamin dan oksitosin. Namun ketika terjadi pengkhianatan, jalur kimiawi ini terganggu. Akibatnya, seseorang bisa merasa tidak layak dicintai, sulit membuka hati, atau merasa takut menjalani hubungan baru.

Dalam jangka panjang, luka ini juga bisa mengubah perilaku sosial. Sebagian orang menjadi sangat tertutup, sementara sebagian lainnya menjadi terlalu bergantung pada pasangan karena takut ditinggalkan.

Perbedaan Antara Pria dan Wanita: Jenis Pengkhianatan yang Paling Menyakitkan

Penelitian menunjukkan bahwa pria lebih terpukul oleh perselingkuhan fisik, sedangkan wanita cenderung lebih terluka oleh hubungan emosional di luar pasangan. Meski demikian, kedua bentuk perselingkuhan sama-sama berdampak besar dan dapat merusak stabilitas hubungan. Dalam beberapa kasus, korban perselingkuhan membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog atau konselor pernikahan untuk mengembalikan rasa aman dan harga diri setelah mengalami pengkhianatan.

Dampak Perselingkuhan Jika Anak Mengetahui Kejadian Tersebut

Pengkhianatan dalam rumah tangga tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada anak. Ketika anak mengetahui salah satu orang tuanya selingkuh, efek psikologis yang muncul dapat meliputi kecemasan, kebingungan, rasa terabaikan, hingga hilangnya kepercayaan pada figur orang tua. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan contoh perselingkuhan memiliki risiko lebih tinggi mengulang pola tersebut ketika dewasa. Luka ini bisa terbawa hingga pembentukan karakter dan cara mereka membangun hubungan nantinya.

Berapa Lama Sebenarnya Waktu Pemulihan dari Luka Perselingkuhan

Rata-rata waktu pemulihan yang disebutkan oleh lembaga konseling pernikahan adalah sekitar 18 bulan. Namun durasi ini bukan patokan pasti karena setiap orang memproses trauma dengan cara dan kecepatan yang berbeda. Beberapa faktor yang memengaruhi durasi pemulihan antara lain:

  • Kesediaan pasangan yang berselingkuh untuk menyesali perbuatannya
  • Konsistensi usaha memperbaiki hubungan
  • Terbukanya komunikasi dua arah
  • Kemampuan korban memahami emosinya sendiri
  • Dukungan lingkungan sekitar
  • Keputusan pasangan apakah tetap bersama atau berpisah

Beberapa pasangan bisa pulih lebih cepat, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Bahkan ada yang tetap membawa luka tersebut meskipun hubungan diteruskan.

Proses Memaafkan dan Realita yang Harus Disadari Pasangan

Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah proses panjang yang membutuhkan kesediaan untuk menghadapi luka, mengelola emosi, dan menerima kenyataan bahwa hubungan telah berubah. Dalam banyak hubungan, memaafkan justru menjadi langkah awal untuk membangun kembali fondasi kepercayaan. Namun memaafkan juga membutuhkan usaha dari pihak yang berselingkuh. Mereka harus siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sulit, menerima ledakan emosi pasangannya, serta berkomitmen penuh untuk membuktikan bahwa pengkhianatan tidak akan terulang kembali.

Pasangan yang berselingkuh mungkin merasa sudah move on dari kesalahannya, tetapi mereka perlu memahami bahwa korban sedang melalui proses berduka yang kompleks.

Bisakah Hubungan Pulih dan Menjadi Lebih Kuat Setelah Perselingkuhan

Meski terdengar berat, banyak pasangan berhasil pulih dari perselingkuhan dan justru membangun hubungan yang lebih kuat. Kuncinya terletak pada kemampuan untuk mengakui kesalahan, menghadapi luka bersama, dan menciptakan kembali rasa aman yang hilang. Terapi pasangan sering menjadi metode efektif untuk membantu kedua belah pihak memetakan ulang hubungan, memperbaiki komunikasi, dan mencari akar masalah yang mungkin telah lama terabaikan sebelum perselingkuhan terjadi.

Harapan Baru Setelah Luka Mendalam

Pemulihan dari perselingkuhan memang tidak mudah. Luka yang ditinggalkan bisa sangat dalam dan membutuhkan waktu panjang. Namun dengan kesadaran, bantuan profesional, dan komitmen bersama, proses penyembuhan sangat mungkin terjadi. Dalam beberapa kasus, pasangan bahkan menemukan kedekatan emosional baru yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Posting Komentar