Perjalanan Bisnis Keberlanjutan Toko Kopi Tuku, dari Gelas Daur Ulang hingga Agroforestri

Inisiatif Keberlanjutan Toko Kopi Tuku dalam Mendukung Lingkungan
Toko Kopi Tuku, sebuah merek kopi yang aktif dalam menjalankan program keberlanjutan, telah mengambil langkah-langkah nyata untuk menjaga lingkungan sejak tahun 2019. Program ini dikenal sebagai ESG (Environmental, Social and Governance) yang mencakup berbagai inisiatif dari penggunaan kemasan daur ulang hingga penanaman pohon di hutan.
Salah satu awal dari perjalanan bisnis ramah lingkungan ini adalah ketika perusahaan mulai mengubah sampah kemasan krimer menjadi kantong daur ulang. Pada Juli 2023, Toko Kopi Tuku memperkenalkan gelas dan botol plastik berukuran 1 liter yang sepenuhnya terbuat dari bahan daur ulang dengan desain polos embossed. Meski awalnya mendapat penolakan dari pelanggan, kini inisiatif tersebut telah diterima dengan baik.
Perubahan Desain Kemasan dan Penyesuaian Pelanggan
Menurut Maisha D Ardani, Head of Relations Toko Kopi Tuku, awalnya ada beberapa pelanggan yang menyebut kemasan baru ini seperti gelas kopi starling. Hal ini disebabkan oleh desain yang lebih sederhana dibandingkan sebelumnya. Namun, meskipun kemasan baru ini lebih mahal, saat ini tidak ada lagi kritik yang muncul dari pelanggan.
Pegita Adittya, Senior Officer ESG MAKA-holding Toko Kopi Tuku, menjelaskan bahwa desain yang polos dianggap kurang ikonik dibandingkan sebelumnya. Namun, tujuan utamanya adalah membuat kemasan lebih mudah didaur ulang. Oleh karena itu, cetakan warna dihilangkan agar proses daur ulang lebih efektif.
Pengelolaan Sampah dan Kolaborasi dengan Vendor
Toko Kopi Tuku juga menerapkan sistem pemilahan sampah atau waste management di gerai-gerainya. Saat ini, sebanyak 52 toko atau 90 persen dari total gerai sudah menerapkan pemilahan sampah, termasuk kantong kopi, krimer, ampas kopi, dan bahkan apron barista.
Kolaborasi dengan vendor dilakukan untuk menangani limbah. Contohnya, kantong kopi dan krimer dicacah kembali menjadi benang baru, sedangkan ampas kopi digunakan sebagai briket dan lanyard. Berdasarkan data yang diperoleh, Toko Kopi Tuku telah memilah 354 ton sampah dalam tiga tahun terakhir, serta menghasilkan 104 ribu produk daur ulang dari 401 ribu kantong krimmer.
Produk Daur Ulang dan Donasi untuk Lingkungan
Produk daur ulang dari Toko Kopi Tuku tidak hanya terbatas pada tas dan pouch, tetapi juga bisa ditemukan dalam bentuk meja dan kursi di beberapa cabang. Selain itu, perusahaan juga mengajak pelanggan dan mitra untuk ikut serta dalam keberlanjutan lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon atau agroforestri.
Sejak 2023, Tuku dan Beragam (anak usaha MAKA) telah menanam 5 ribu pohon di berbagai lokasi seperti Gunung Ringgeung, Garut Jawa Barat; Takengon Aceh Tengah; dan Desa Rumbih Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Mereka bahkan membawa pelanggan ke lokasi penanaman dan membuat konten untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan.
Donasi dan Pelatihan kepada Petani
Selain itu, Tuku juga memberikan donasi sebesar Rp 1 setiap pembelian Kopi Tukucur per 100 ml. Minimal setiap pembelian 200 ml Tukucur, pelanggan berdonasi Rp 2. Seorang pelanggan, Nona Lice Potabuga, mengungkapkan bahwa ia lebih memilih membeli kopi menggunakan tumbler karena bisa berdonasi sekaligus mengurangi penggunaan plastik.
Toko Kopi Tuku dan Beragam juga memberikan pelatihan kepada 630 mitra petani kopi dan 275 petani gula aren di 20 wilayah. Tujuannya adalah untuk memastikan pasokan bahan baku yang cukup untuk operasional perusahaan.
Kolaborasi dengan Duitin untuk Pengelolaan Sampah
Audrey Adhiarini, Strategic Partnership and Enterprise Lead at Duitin, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Tuku dalam program keberlanjutan dimulai sejak 2022. Program ini mencakup penjemputan sampah daur ulang terpilah seperti kotak susu, gelas plastik, dan kini juga sampah organik seperti ampas kopi.
Semua sampah daur ulang dipilah terlebih dahulu oleh Kawan Tuku, kemudian ditimbang, didata, dan dijemput langsung oleh Picker Duitin. Awalnya hanya 10 gerai yang terlibat, kini berkembang menjadi 30 gerai. Setelah dijemput, Duitin memastikan bahwa sampah daur ulang tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi kembali masuk ke rantai ekonomi sirkular. Kedua belah pihak memiliki visi yang sama untuk memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Posting Komentar