Mitos vs Fakta: Pria Lebih Cepat Lupakan

Daftar Isi
Featured Image

Persepsi dan Realitas tentang Move On Pria

Banyak orang menganggap bahwa pria lebih cepat pulih setelah putus cinta. Mereka terlihat tenang, bisa tertawa lagi, dan seolah hidup normal tanpa beban. Namun, persepsi ini sering kali menutupi kenyataan yang berbeda. Di balik sikap tenang mereka, banyak pria justru menyembunyikan perasaan yang dalam dan kompleks.

Cara pria mengekspresikan emosi memang tidak selalu melalui kata-kata. Banyak dari mereka lebih memilih diam, sibuk, atau mencari hiburan lain daripada bercerita. Dari situ muncul kesalahpahaman bahwa mereka cepat move on. Padahal, ini hanya bagian dari cara mereka menghadapi rasa sakit.

Mitos dan Fakta tentang Move On

  1. Mitos: Pria Cepat Move On karena Gak Baper
    Banyak orang percaya bahwa pria tidak mudah terbawa perasaan. Mereka dianggap bisa menutup luka emosional lebih cepat dibanding perempuan. Sikap tenang setelah putus sering jadi bukti bahwa mereka tidak terlalu sakit hati. Namun, ini lebih soal cara menampilkan emosi, bukan keadaan nyata. Banyak pria diajarkan untuk tidak menunjukkan kesedihan. Menangis atau galau dianggap lemah dan tidak maskulin. Akibatnya, rasa sakit disimpan sendiri tanpa ventilasi yang sehat. Dari luar tampak baik-baik saja, tapi di dalam masih berantakan.

  2. Fakta: Pria Sering Menunda Proses Berduka
    Alih-alih memproses kehilangan, pria cenderung mengalihkan diri. Mereka menyibukkan diri dengan kerja, hobi, atau nongkrong. Ini membuat rasa sedih seolah hilang, padahal hanya tertunda. Emosi yang ditekan akan muncul di waktu yang tidak terduga. Bagi sebagian pria, masa paling berat justru datang belakangan. Saat distraksi hilang, rasa sepi baru benar-benar terasa. Proses move on jadi lebih panjang karena luka tidak pernah dihadapi sejak awal.

  3. Mitos: Punya Gebetan Baru Berarti Sudah Move On
    Pria yang cepat dekat dengan orang baru sering dianggap sudah selesai dengan masa lalu. Hubungan baru dilihat sebagai tanda kesembuhan emosional. Padahal, tidak jarang itu hanya pelarian sementara. Kehadiran orang baru belum tentu menutup luka lama. Rebound relationship sering dipilih untuk menghindari kesepian. Namun, perasaan yang belum tuntas bisa terbawa ke hubungan berikutnya. Ini membuat koneksi baru tidak utuh dan rentan masalah.

  4. Fakta: Move On Pria Cenderung Sunyi dan Tidak Terlihat
    Proses move on pria jarang dipamerkan. Mereka jarang mengunggah curhatan atau meminta simpati. Banyak yang memilih menjalani hari seperti biasa sambil berjuang sendiri. Kesunyian ini sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian. Padahal, dalam diam itu ada proses panjang. Pria belajar menerima, mengingat, lalu melepaskan dengan caranya sendiri. Tidak banyak kata, tapi penuh refleksi. Move on versi pria sering lebih lambat, tapi mendalam.

  5. Jadi, Apakah Pria Lebih Mudah Move On?
    Kemudahan move on tidak bisa disematkan pada gender. Setiap orang punya cara dan tempo masing-masing. Pria mungkin terlihat lebih cepat bangkit, tapi belum tentu benar-benar pulih. Yang cepat terlihat belum tentu yang paling selesai. Perbedaan utamanya ada pada ekspresi, bukan kedalaman perasaan. Pria dan perempuan sama-sama bisa terluka dan sembuh. Yang penting bukan siapa yang lebih cepat, melainkan siapa yang lebih jujur pada diri sendiri. Dari situlah proses sehat dimulai.

Kesimpulan

Mitos bahwa pria lebih mudah move on sering membuat luka mereka tidak terlihat. Padahal, banyak pria berjuang sendiri tanpa validasi. Mereka hanya memilih diam, bukan kebal rasa sakit. Kesembuhan bukan soal kecepatan, tapi soal keberanian menghadapi perasaan. Mengakui luka bukan tanda lemah, justru tanda dewasa. Baik pria maupun perempuan, semua berhak berproses dengan caranya sendiri. Move on bukan lomba, melainkan perjalanan personal. Dan setiap perjalanan butuh waktu yang berbeda.

Posting Komentar