Mengenal Leptospirosis, Penyakit Saat Banjir

Penyakit Leptospirosis: Apa Itu dan Bagaimana Menyebar?
Banjir, terutama banjir bandang, sering kali menyebabkan kerusakan yang parah. Banyak bangunan, rumah, dan infrastruktur hancur akibat air yang meluap. Hal ini membuat warga menjadi terisolasi dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Selain itu, banjir juga memicu munculnya masalah kesehatan, salah satunya adalah leptospirosis. Meski tidak sepopuler penyakit lain seperti flu atau diare, leptospirosis bisa sangat berbahaya jika tidak segera ditangani.
Apa Itu Leptospirosis?
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira. Dilansir dari berbagai sumber medis, leptospirosis menyebar ketika hewan yang terinfeksi buang air kecil, sehingga urin mereka mencemari tanah atau air. Manusia dapat tertular saat menyentuh air atau tanah yang terkontaminasi. Bakteri ini bisa masuk ke tubuh melalui luka pada kulit atau melalui saluran pernapasan seperti hidung dan mulut. Leptospirosis juga bisa menyebar melalui cairan tubuh seperti air mani atau ASI. Namun, penularan antar manusia jarang terjadi karena cara penyebarannya yang terbatas.
Risiko Leptospirosis di Wilayah Tropis
Meskipun leptospirosis bisa menyerang siapa saja, risikonya lebih tinggi di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Wilayah seperti Karibia, Oseania, Asia Tenggara, dan Sub Sahara memiliki angka kasus yang lebih tinggi. Selain itu, orang-orang yang bekerja dekat dengan hewan atau tanah, seperti petani, peternak, pekerja tambang, dan dokter hewan, juga lebih rentan terkena penyakit ini. Bencana alam seperti banjir dan badai meningkatkan risiko karena akses air bersih terbatas dan banyak orang terpaksa menggunakan air yang tercemar.
Gejala Leptospirosis yang Sering Mirip Flu
Gejala leptospirosis biasanya mirip dengan flu, seperti demam, batuk, diare, muntah, sakit kepala, nyeri otot, dan ruam. Gejala ini muncul antara 2 hingga 30 hari setelah paparan bakteri. Mayoritas kasus leptospirosis ringan dan bisa pulih dalam waktu seminggu. Namun, sekitar 10 persen kasus bisa berkembang menjadi penyakit berbahaya. Penderita leptospirosis berat bisa mengalami gejala tambahan seperti kelelahan, detak jantung tidak teratur, mimisan, nyeri dada, dan pembengkakan di tangan serta kaki. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan gagal ginjal dan kematian.
Cara Mencegah Leptospirosis
Mencegah leptospirosis cukup mudah dengan menjaga kebersihan diri. Jika memiliki hewan ternak atau peliharaan, pastikan mereka divaksinasi secara lengkap. Di negara maju, vaksinasi hewan sudah umum dilakukan, sedangkan di negara berkembang, vaksinasi tidak merata, sehingga risiko penularan lebih tinggi. Selain itu, hindari kontak dengan air kotor, seperti genangan air banjir, sungai, atau danau. Jika harus melakukan aktivitas di lingkungan yang berisiko, gunakan pakaian dan sepatu pelindung, lalu segera mandi dan cuci tangan setelahnya.
Pentingnya Waspada Saat Musim Hujan
Meski sebagian besar kasus leptospirosis bersifat ringan, kita tetap perlu waspada, terutama saat musim hujan. Bakteri leptospira lebih mudah menyebar dalam kondisi lembap dan basah. Jika merasa sakit atau mengalami gejala yang mengarah ke leptospirosis, segera periksakan diri ke klinik atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan kesadaran dan tindakan pencegahan yang baik, kita bisa mengurangi risiko terkena penyakit ini.
Posting Komentar