Kenali Bahaya Stroke: Siapa yang Berisiko?

Penyebab dan Faktor Risiko Stroke pada Berbagai Kelompok Usia
Stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya mengintai lansia, namun fakta menunjukkan bahwa kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk usia muda. Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, jarang berolahraga, hingga kegemukan sering diabaikan oleh generasi muda. Padahal, risiko stroke meningkat dengan bertambahnya usia, tetapi faktor risiko yang dapat dikendalikan juga memengaruhi kemungkinan terjadinya stroke.
Risiko Stroke Berdasarkan Rentang Usia
Secara medis, risiko stroke meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, ada beberapa kelompok usia yang memiliki risiko khusus:
-
Stroke Perinatal
Meskipun jarang, stroke bisa terjadi pada bayi dalam 28 hari pertama setelah lahir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan darah ke otak akibat emboli dari kelainan jantung bawaan. Pemeriksaan jantung sangat penting untuk kelompok usia ini. -
Stroke pada Anak-anak
Stroke pada anak-anak terjadi antara usia 28 hari hingga 18 tahun. Faktor risiko meliputi anemia sel sabit, gangguan pembekuan darah, penyakit jantung bawaan, dan kelainan pembuluh darah. Laki-laki di bawah usia 5 tahun paling rentan. -
Stroke pada Usia Dewasa Muda
Pada usia produktif (18-45 tahun), stroke lebih sering disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat dan faktor genetik. Sebagian besar kasus stroke pada kelompok ini adalah stroke iskemik. Faktor risiko mencakup merokok, konsumsi alkohol, kurang olahraga, stres, serta penyakit metabolik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. -
Lansia
Risiko stroke meningkat secara signifikan pada usia lanjut. Rata-rata usia penderita stroke adalah sekitar 74 tahun. Stroke iskemik lebih umum pada lansia, sering kali terkait dengan penyakit jantung atau gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium.
Gejala Stroke yang Harus Dikenali
Gejala stroke bisa sangat bervariasi tergantung area otak yang terkena. Namun, ada indikator penting yang bisa dikenali dengan istilah "SeGeRa Ke RS", yaitu:
- Se: Senyum tidak simetris secara tiba-tiba.
- Ge: Gerakan melemah pada satu sisi tubuh.
- Ra: Bicara pelo atau sulit dipahami.
- Ke: Kebas atau kesemutan pada separuh tubuh.
- R: Rabun atau gangguan penglihatan.
- S: Sakit kepala hebat yang tiba-tiba.
Jika gejala tersebut muncul, segera cari pertolongan medis karena stroke adalah kondisi darurat.
Prospek Pasien Setelah Stroke
Setelah mengalami stroke, risiko terkena stroke lagi meningkat. Pada lansia, komplikasi pasca stroke sering terjadi dalam dua tahun setelah serangan pertama. Bayi dan anak-anak yang pernah mengalami stroke cenderung mengalami kerusakan otak permanen dan efek neurologis jangka panjang seperti cerebral palsy, gangguan kognitif, dan epilepsi.
Pencegahan dan Strategi Mengurangi Risiko Stroke
Pencegahan stroke sangat penting, terutama bagi kelompok usia muda. Pengendalian faktor risiko seperti kegemukan, tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol dapat mencegah lebih dari 90% kasus stroke. Selain itu, gaya hidup sehat seperti berolahraga rutin, menghindari rokok dan alkohol, serta menjaga pola makan seimbang juga menjadi langkah penting.
Dengan pemahaman tentang risiko stroke pada berbagai kelompok usia dan upaya pencegahan yang tepat, kita bisa melindungi diri dan orang-orang terdekat dari ancaman stroke yang bisa datang tiba-tiba.
Posting Komentar