Ekonomi DIY Tumbuh 5,3 Persen, Sekda Minta Waspadai Inflasi dan Perlambatan Wisata

Pertumbuhan Ekonomi DIY yang Menunjukkan Tanda-Tanda Perbaikan
Pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan angka yang cukup positif hingga triwulan ketiga tahun 2025. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi DIY mencapai 5,30 persen (C2C), lebih tinggi dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, beberapa indikator menunjukkan perlambatan di sektor tertentu, seperti pariwisata dan ekonomi perkotaan.
Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyampaikan bahwa meskipun secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi DIY tergolong positif, pihaknya tetap mengingatkan adanya penurunan pertumbuhan ekonomi di Kota Yogyakarta pada semester pertama tahun 2025. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya yang selalu tumbuh di atas 5 persen. Salah satu penyebabnya adalah pembatasan atau pembatalan sejumlah kegiatan pasca Instruksi Presiden I tahun 2025.
Selain itu, Kabupaten Kulon Progo juga mencatat perlambatan ekonomi dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat tumbuh di atas 4 persen. Meski inflasi di wilayah DIY masih dalam batas terkendali, tren kenaikan hingga pertengahan tahun perlu diwaspadai agar tidak mengganggu kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Pengaruh Terhadap Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian DIY mengalami penurunan kunjungan wisatawan hingga Agustus 2025. Penurunan tersebut terutama dialami oleh wisatawan nusantara, meskipun wisatawan mancanegara masih menunjukkan peningkatan. Pengembangan pariwisata hingga Agustus 2025 menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan yang didominasi wisatawan asal Malaysia, Italia, dan Singapura. Namun, jika dibandingkan dengan periode Januari sampai Agustus 2024, kunjungan wisatawan turun sebesar 7,36 persen.
Kunjungan wisatawan nusantara juga menurun, dengan destinasi terbanyak masih berada di Kabupaten Sleman. Meski terjadi perlambatan di sektor pariwisata, nilai ekspor DIY tercatat naik 9,23 persen, sementara impor meningkat 10,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah daerah berupaya menjaga keseimbangan ekspor-impor agar tidak menekan defisit neraca perdagangan daerah.
Realisasi Kinerja dan Keuangan
Capaian kinerja Pemerintah Daerah DIY pada triwulan ketiga sebagian besar menunjukkan hasil positif. Enam indikator kinerja masih perlu diselesaikan hingga akhir tahun, sementara realisasi keuangan mengalami deviasi kecil akibat penundaan transfer dana pusat. Realisasi keuangan sampai triwulan ketiga mengalami deviasi karena efisiensi belanja, proses SPJ, dan transfer DAK-DAU yang tertunda. Padahal, realisasi fisik relatif optimal karena adanya surplus kinerja, sehingga terjadi deviasi minus 0,19.
Secara umum kualitas pelaksanaan kegiatan OPD dalam kategori baik dengan skor 84,58. Beberapa proyek strategis masih memerlukan percepatan, antara lain pembangunan Gedung DPRD DIY, TPST Piyungan, dan Gedung Psikiatri Terpadu RS Grhasia. Perlu menjadi perhatian dan monitor intensif agar progresnya selesai tepat waktu sampai akhir tahun 2025.
Capaian Dana Keistimewaan dan Bantuan Keuangan Khusus
Terkait realisasi Dana Keistimewaan (Danais), hingga triwulan ketiga tahun ini telah terealisasi 96,21 persen secara fisik dan 81,84 persen secara keuangan. Urusan kebudayaan mencatat capaian tertinggi dalam aspek fisik, sementara urusan kelembagaan unggul dalam aspek keuangan. Efisiensi Danais yang telah teridentifikasi akan dioptimalkan dalam usulan redesign ke-2. Capaian fisik tertinggi terdapat pada Kabupaten Gunungkidul dan capaian keuangan tertinggi di Kabupaten Sleman.
Selain itu, Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kalurahan telah direalisasikan pada 392 kalurahan dengan total 715 paket program strategis gubernur. Namun, realisasi fisik masih tertinggal di angka 58,10 persen, sehingga perlu percepatan agar seimbang dengan serapan keuangan yang sudah mencapai 99,65 persen.
Visi dan Rekomendasi untuk Masa Depan
Transformasi pembangunan pariwisata DIY ke depan akan diarahkan menuju pariwisata yang berkualitas, berdaya saing internasional, inklusif, dan berkelanjutan. Hal ini selaras dengan visi pembangunan jangka panjang DIY 2045: maju, sejahtera, dan berkelanjutan, dijiwai kebudayaan dan keistimewaan.
Dalam penutup laporannya, Made menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi daerah, antara lain memperkuat koordinasi lintas sektor, mempercepat reformasi kalurahan, serta optimalisasi aset daerah. Selain itu, optimalisasi aset daerah serta revisi peraturan gubernur tentang tarif perlu dilakukan untuk memperluas sumber pendapatan daerah.
Seluruh upaya tersebut bertujuan menjaga akuntabilitas, mempercepat realisasi program, serta memastikan pembangunan berjalan inklusif dan berkelanjutan.
Posting Komentar