Ayah Rita Kirim Uang ke Ciamis Sebelum Bencana Menerjang Gayo Lues Aceh

Keluarga Rita Nurhayati Kehilangan Kontak Setelah Bencana Banjir dan Longsor di Aceh Tengah
Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, telah menyebabkan kekhawatiran besar bagi keluarga besar Rita Nurhayati. Enam anggota keluarga termasuk ayahnya, Eko Hardianto, hilang kontak lebih dari sepekan terakhir ini. Mereka tinggal di daerah yang terkena dampak bencana parah, sehingga komunikasi dengan pihak keluarga di Ciamis, Jawa Barat, terputus.
Rita mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan ayahnya terjadi pada 25 November 2025 sekitar pukul 14.00 WIB. Beberapa jam setelahnya, ponsel ayahnya masih aktif. Namun, sejak magrib hari itu, tidak ada sinyal lagi. "HP-nya mati sejak itu," ujar Rita dengan suara bergetar.
Keadaan semakin memprihatinkan karena selain ayahnya, lima anggota keluarga lainnya seperti paman dan tante juga hilang kontak. Total ada enam orang dalam satu keluarga besar yang belum bisa dihubungi hingga saat ini. Rita mengatakan, biasanya keluarganya rutin memberi kabar. Namun, akibat bencana yang terjadi secara mendadak, komunikasi terputus sama sekali.
Menurut Rita, beberapa hari sebelum kehilangan kontak, ayahnya sempat mengirim uang hasil panen getah pinus. "Udah panen kan, jadi sempat gajian. Itu terakhir kirim uang," katanya. Eko baru tiga bulan bekerja kembali di Aceh setelah sempat pulang dan bekerja sebagai penggali kabel dan bertani. Karena hasil panen sering gagal, ia memutuskan kembali menjadi penyadap getah pinus di Aceh.
Selain Eko, anggota keluarga lainnya sudah lebih lama bekerja di Aceh, antara dua hingga tiga tahun. Mereka tinggal di kawasan Jalan Lintas Blangkejeren, Desa/Kecamatan Rikitgaib, Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah. Menurut laporan relawan, wilayah tersebut merupakan salah satu daerah dengan dampak bencana paling parah dan terisolasi akibat putusnya akses jalan darat.
Keluarga Rita mengaku tidak memiliki kenalan langsung di lokasi bencana. Mereka hanya bisa mengandalkan informasi dari media sosial dan pemerintah desa setempat. "Cuma bisa cari informasi di sosmed. Soalnya enggak kenal siapa-siapa di sana," ucap Rita.
Pemerintah desa setempat sudah memberi kabar bahwa tim relawan dan petugas BPBD tengah bergerak di Aceh untuk menyisir wilayah-wilayah terdampak. Meski dihantui rasa takut, Rita tetap berharap ada kabar baik. "Harapannya semoga cepat ada kabar. Semoga ayah dan semuanya sehat walafiat. Pengen cepat kumpul lagi," tutupnya.
Sembilan warga Dusun Baros, Desa Ciomas, merupakan penyadap getah pinus. Hingga Jumat (5/12/2025), komunikasi dengan para pekerja dari Dusun Baros, Desa Ciomas itu belum kembali tersambung. Dari sembilan orang tersebut, enam orang merupakan satu keluarga besar sementara tiga lainnya adalah tetangganya.
Kepala Desa Ciomas, Devi Yulviana, menjelaskan bahwa semua yang hilang kontak di Aceh itu merupakan warga Dusun Baros namun satu orang telah menikah dan berdomisili di Desa Kertamandala. "Sebanyak enam orang yaitu Eko, Apan, Oon, Deni, Dida, dan Amay merupakan satu keluarga. Sisanya adalah tetangga satu dusun. Mereka bekerja menyadap getah pinus di sana," ujar Devi.
Menurut keterangan Kades, berdasarkan informasi dari keluarga, komunikasi terakhir terjadi pada 25 November, dua hari sebelum bencana terjadi. Setelah itu, tidak ada lagi kabar yang diterima pihak keluarga hingga hari ini. "H-2 sebelum kejadian, itu kontak terakhir menurut istrinya Pak Eko. Dari tanggal 26, 27, dan sampai sekarang belum ada komunikasi lagi," kata Devi.
Situasi makin mengkhawatirkan karena wilayah Gayo disebut sebagai salah satu lokasi terdampak yang paling parah. Informasi dari relawan menyebutkan bahwa akses darat menuju daerah itu saat ini terputus total. Pemerintah Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, serta BPBD Kabupaten Ciamis terus menjalin koordinasi dengan BPBD Aceh dan relawan setempat.
Tiga orang relawan dari Ciamis juga telah dikirim ke Aceh bersama BPBD Provinsi pada tanggal 28 November 2025. "Alhamdulillah, BPBD Ciamis melalui Ibu Kalak sudah berkomunikasi dengan BPBD Aceh. Respons mereka sangat baik. Mereka siap membantu pencarian warga kita di sana," tutur Devi.
Di tengah kabar yang masih simpang siur dan akses yang sulit, pemerintah desa bersama keluarga hanya bisa berharap sembilan warga tersebut segera ditemukan. "Mudah-mudahan saudara-saudara kita yang sedang mencari nafkah di Aceh segera bisa berkomunikasi lagi dan ditemukan dalam keadaan sehat, selamat," pungkasnya.
Posting Komentar