Akting Helsi Herlinda Dibandingkan Christine Hakim dalam Film Nia

Transformasi Luar Biasa Helsi Herlinda dalam Film 'Nia'
Helsi Herlinda, aktris senior yang selama dua dekade dikenal dengan peran antagonis, kini menunjukkan transformasi luar biasa dalam film layar lebar terbarunya bertajuk "Nia". Film ini diangkat dari kisah nyata seorang gadis penjual gorengan di Padang Pariaman yang menggugah hati masyarakat Indonesia.
Dalam film ini, Helsi memerankan tokoh utama bernama Ibu Eli, sosok ibu yang penuh perjuangan dan menderita. Peran ini menjadi titik balik bagi kariernya yang sebelumnya dikenal lewat sinetron "Bawang Merah Bawang Putih" pada tahun 2004.
Helsi mengaku tertantang untuk melepaskan imej jahat yang selama 20 tahun melekat padanya. Kali ini, ia harus berperan sebagai protagonis yang penuh emosi dan kehilangan anak kesayangan. "Selama 20 tahun aku selalu dapat peran antagonis. Tiba-tiba di sini harus jadi protagonis yang menderita dan kehilangan anak kesayangan. Ini tantangan yang luar biasa banget," ujarnya.
Keterlibatannya dalam film ini dimulai dari ajakan sutradara Aditya Gumai. Menurut Helsi, ia merasa bahwa peran ini layak untuk diambil karena ada panggilan dari tanah leluhur Minangnya. "Aku merasa ada panggilan dari tanah leluhur," katanya.
Untuk mendapatkan peran Ibu Eli, Helsi melakukan proses casting secara serius. Ia mengirimkan video tanpa make up dan warna kulit yang dibuat gelap agar lebih mirip dengan karakter yang diperankannya. Saat sesi pemotretan, ia datang dengan pakaian sederhana, hijab lusuh, dan riasan wajah yang dibuat gelap. "Mereka sampai tidak mengenaliku. 'Hah? Helsi? Ya ampun kirain siapa'," ceritanya.
Totalitas Helsi dalam mempersiapkan perannya membawa hasil yang memuaskan. Ia melakukan penyesuaian akting yang signifikan, mengubah gestur besar khas sinetron menjadi akting natural dan mendalam. Bahkan, ia kerap mendengarkan lagu-lagu sedih Minang seperti "Pulanglah Uda" untuk membangun emosi di lokasi syuting.
Penampilan emosional Helsi menuai pujian dari rekan sesama artis dan produser film. Salah satunya adalah Pak Niki, yang menyebutkan bahwa ia tidak menyangka Helsi bisa tampil begitu baik. "Saya tidak nyangka, kamu di sini mantap, bagus. Bisa disetarakan dengan Christine Hakim," ujar Pak Niki.
Bagi Helsi, Christine Hakim adalah panutan dan level tertinggi dalam dunia seni peran Indonesia. Mendengar pujian tersebut, ia sempat merasa kaget dan tidak percaya. "Aku sempat blank dan merasa, 'Ah masa sih Pak, jangan bikin aku GR'. Tapi dia serius bilang pertahankan kemampuan ini," katanya.
Kekhawatiran Helsi tentang penonton yang sulit menerima perubahan dari peran jahat ke peran ibu yang teraniaya akhirnya sirna. Saat pemutaran film, ia melihat sendiri bagaimana penonton ikut larut dalam kesedihan yang ia bangun. "Aku sempat takut dibilang nggak pas atau 'Ah udah lah Helsi antagonis aja'. Tapi ternyata saat aku lihat kanan kiri, penonton pada mengusap mata, mereka menangkap rasa sedih dan marahnya seorang ibu yang kehilangan anaknya secara tragis," ujarnya.
Film "Nia" tidak hanya menjadi pembuktian kualitas akting Helsi Herlinda sebagai aktris watak, tetapi juga menjadi pengingat akan kisah tragis Nia Kurnia Sari yang sempat menggugah hati masyarakat Indonesia.
Sinopsis Film "Nia"
Film "Nia" sedang tayang di bioskop sejak 4 Desember 2025. Diangkat dari kisah nyata peristiwa tragis yang dialami seorang gadis penjual gorengan di Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Nia Kurnia Sari (Syakira Humaira) adalah gadis 18 tahun yang sholehah, rajin, dan berjuang keras membantu keluarganya dengan berjualan gorengan. Nia menjadi tulang punggung keluarga setelah orang tuanya bercerai. Ibunya, Eli (Helsi Herlinda), menderita penyakit tiroid dan tidak mampu bekerja. Kakaknya, Rini (Eka Maharani), sementara adiknya Mayang (Aisyah) masih kecil dan sangat bergantung pada Nia. Ayah mereka, Asril (Zainal Chaniago), tinggal di Dumai bersama anak lelakinya yang lain.
Suatu sore di tengah hujan, saat pulang berjualan, Nia melewati jalan sepi di tepi hutan seperti biasanya. Di tempat itulah, Andri (Qya Ditra), pemuda pengangguran dan residivis dari kampung sebelah menyerangnya. Nia dibekap, dibunuh, lalu diperkosa, sebelum jasadnya dikubur di tepi sungai irigasi.
Keesokan harinya, warga geger mencari Nia. Makwo (Neno Warisman) bersama warga dan polisi berusaha menemukan keberadaannya. Tiga hari kemudian, jasad Nia akhirnya ditemukan. Andri melarikan diri, sementara keluarga Nia harus menghadapi duka mendalam. Dalam pelariannya, Andri dihantui rasa bersalah, dan di sisi lain, kekasih Nia yang menderita sakit jantung berjuang menerima kenyataan kehilangan gadis yang dicintainya.
Posting Komentar