Adipratnia Satwika Asmady: Pentingnya Indonesia Kuasai Teknologi Antariksa

Daftar Isi
Featured Image

Peran Teknologi Antariksa dalam Kehidupan Sehari-hari dan Kepentingannya bagi Indonesia

Teknologi antariksa tidak hanya menjadi domain eksplorasi luar angkasa, tetapi juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam sebuah program GAGAS RI yang bertema "Generasi Penggerak: Lahirkan Aksi Ciptakan Dampak", Space Technology Manager dari Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adipratnia Satwika Asmady atau lebih dikenal dengan Nia, menyampaikan bahwa menguasai teknologi antariksa berarti menguasai teknologi informasi.

Dalam penggunaannya sehari-hari, teknologi ini sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Contohnya, layanan ojek online dan pengiriman paket menggunakan satelit navigasi untuk mengetahui posisi dan jalur tercepat. Selain itu, data cuaca juga berasal dari satelit yang memberikan informasi akurat tentang kondisi iklim di suatu wilayah.

Teknologi Navigasi yang Berperan Penting

Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Jepang, dan India memiliki sistem satelit navigasi sendiri. Misalnya, GPS dari Amerika, Glonass dari Rusia, serta sistem lainnya dari negara-negara lain. Nia menjelaskan bahwa sistem-sistem ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga penting untuk kepentingan nasional.

Contoh nyata adalah ketika Jepang menggunakan citra satelit setelah tsunami 2011 untuk mengetahui perubahan garis pantai. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya data citra satelit dalam penilaian risiko bencana alam dan tindakan mitigasi yang diperlukan.

Teknologi Antariksa sebagai Bagian dari Informasi dan Keamanan Nasional

Menurut Nia, teknologi antariksa kini sudah menjadi bagian dari teknologi informasi. Data yang diperoleh dari satelit menjadi sumber utama informasi dan intelijen. Negara-negara maju membatasi penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi terkait antariksa karena mereka melihatnya sebagai aset strategis.

Selain itu, teknologi ini juga menjadi bagian dari perang modern. Contohnya, penggunaan citra satelit di Gaza dalam pengambilan keputusan militer. Ini menunjukkan bahwa superioritas informasi bisa jadi lebih penting daripada kekuatan senjata biasa.

Sejarah dan Perkembangan Teknologi Antariksa di Indonesia

Indonesia sebenarnya sudah memiliki mimpi besar dalam bidang antariksa sejak era awal kemerdekaan. Pada tahun 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) didirikan, dan pada 1964 roket pertama diluncurkan. Namun, perkembangan teknologi antariksa di Indonesia selama beberapa dekade terakhir terlihat stagnan.

Hingga saat ini, Indonesia telah meluncurkan lebih dari 20 satelit dalam 50 tahun terakhir. Namun, hanya tiga dari satelit tersebut yang dikembangkan secara mandiri dan masih dalam kategori riset. Indonesia belum mampu membuat satelit untuk skala komersial maupun pertahanan nasional.

Tiga Pilar untuk Menguasai Teknologi Antariksa

Nia menyoroti tiga pilar penting yang harus dikuasai oleh Indonesia agar bisa maju dalam bidang antariksa:

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)
    Saat ini, jumlah spesialis satelit di Indonesia masih sangat sedikit, kurang dari 500 orang. Nia menilai bahwa Indonesia perlu menarik lebih banyak generasi muda untuk bergabung dalam komunitas antariksa dan belajar tentang satelit serta aplikasinya.

  2. Kemampuan Manufaktur
    Indonesia masih menjadi konsumen teknologi antariksa. Nia berharap ke depannya Indonesia bisa menjadi produsen. Untuk mencapai hal ini, diperlukan SDM yang memadai, rantai pasok yang kuat, serta jaminan kualitas tinggi.

  3. Akses ke Antariksa
    Saat ini, ada kesenjangan antara kemampuan membuat satelit dan kemampuan mengirimkannya ke luar angkasa. Nia menekankan pentingnya melindungi akses Indonesia ke antariksa. Hal ini melibatkan dua elemen, yaitu teknis (seperti teknologi peluncuran dan space port) dan nonteknis (seperti diplomasi).

Masa Depan Teknologi Antariksa di Indonesia

Nia berharap Indonesia dapat menjadi negara yang memiliki kemampuan antariksa mandiri. Ia menekankan bahwa selain membeli satelit, Indonesia perlu fokus pada pemrosesan data dan analisis informasi yang berasal dari satelit. Dengan penggunaan AI dalam aplikasi antariksa, Indonesia bisa meningkatkan kapabilitasnya dalam pengolahan data dan analitik.

Dengan memperkuat tiga pilar tersebut, Indonesia akan mampu menghadapi tantangan global dan menjadi bagian dari dunia yang lebih maju dalam teknologi antariksa.

Posting Komentar