8 Jenis Anggota Keluarga yang Perlu Dihindari untuk Jaga Kesehatan Mental, Menurut Psikologi

Daftar Isi
Featured Image

Memahami Hubungan Keluarga yang Tidak Sehat

Seiring bertambahnya usia, kejelasan tentang apa yang ingin dicapai dalam hidup semakin terasa. Namun, kejelasan ini bisa juga menjadi beban, terutama ketika berkaitan dengan keluarga. Banyak orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa keluarga adalah segalanya, tetapi psikologi menawarkan perspektif yang lebih kompleks. Hubungan keluarga bisa menjadi sumber kedamaian atau justru memicu stres dan kecemasan.

Tidak semua hubungan keluarga bersifat sehat. Beberapa mungkin berpotensi merusak kesehatan mental. Dalam situasi seperti ini, menjaga jarak bukanlah tindakan kasar, melainkan langkah bijak untuk melindungi diri sendiri.

Berikut delapan jenis kerabat atau anggota keluarga yang, menurut psikologi, perlu dihindari atau setidaknya dibatasi aksesnya:

1. Si Jago Kritik

Orang-orang ini selalu mengkritik, baik itu soal gaya pengasuhan, pilihan pasangan, atau cara mengatur keuangan. Kritik mereka sering kali tidak konstruktif dan membuat harga diri seseorang turun.

Apa yang bisa dilakukan?
Alihkan fokus dari membujuk ke melindungi diri. Jangan merespons setiap komentar. Katakan: "Aku tidak tersedia untuk komentar tentang berat badan/pilihan karier/pengasuhan anak. Kalau ini dilanjutkan, aku akan menutup pembicaraan." Dan benar-benar lakukan.

2. Si Penabrak Batas

Mereka tidak menghargai batasan yang diberikan. Mereka datang tanpa pemberitahuan, membocorkan rahasia, atau memaksakan negosiasi atas penolakanmu.

Apa yang bisa dilakukan?
Gunakan kalimat pendek dan jelas. Contoh: "Kami tidak menjadi tuan rumah tahun ini." atau "Silakan kirim pesan dulu sebelum datang." Jika situasi memanas, cukup akhiri interaksi.

3. Si Pelaku Gaslighting

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang membuat korban meragukan pengalaman sendiri. Mereka sering berkata: "Itu tidak pernah terjadi," "Kamu terlalu sensitif," atau "Semua orang juga merasa kamu bereaksi berlebihan."

Apa yang bisa dilakukan?
Jangan mencoba membuktikan kebenaran. Simpan catatan untuk diri sendiri, validasi pengalaman lewat orang tepercaya, dan batasi akses secara perlahan. Jika mereka tidak berubah, menjaga jarak adalah pilihan yang waras.

4. Si Agen Kekacauan

Beberapa orang hidup untuk drama. Mereka sering menyeret orang ke dalam konflik, membuka luka lama, atau mengirim pesan emosional meledak-ledak.

Apa yang bisa dilakukan?
Keluar dari segitiga konflik. Contoh: "Kedengarannya lebih baik kamu bicarakan langsung dengannya." Hindari grup chat yang penuh drama. Jika pertemuan cenderung ricuh, cukup mempersingkat kunjungan atau bahkan tidak hadir sama sekali.

5. Si Penerima Sepihak

Hubungan yang sehat harus saling memberi. Namun, jika kamu selalu menjadi "tempat sampah" emosi atau pemadam kebakaran masalah, sementara mereka hanya muncul saat butuh sesuatu, itu bukan hubungan sehat.

Apa yang bisa dilakukan?
Tunjukkan data, bukan drama. Contoh: "Aku perhatikan belakangan ini rencana kita selalu tentang kebutuhanmu. Aku perlu menyesuaikan agar lebih seimbang." Batasi ketersediaanmu dan kurangi respons cepat.

6. Si Oknum yang Tidak Pernah Kapok

Ada orang yang terus-menerus melakukan kesalahan tanpa pernah memperbaiki diri. Mereka meremehkan dampak, menyalahkan sensitivitasmu, atau minta maaf dengan syarat.

Apa yang bisa dilakukan?
Jangan nilai dari satu "maaf." Lihat polanya. Jika tidak berubah, beri konsekuensi tegas: "Kalau kamu mengangkat topik ini lagi, aku akan keluar dari percakapan." Dan lakukan.

7. Si Penyabotase Nilai

Mereka mengolok-olok keyakinan, gaya hidup, atau identitas pribadimu. Meski disampaikan sebagai "bercanda," tujuannya jelas: mengikis kepercayaan diri.

Apa yang bisa dilakukan?
Sebarkan kejelasan. Misal: "Nilai ini penting buatku, dan aku tidak akan terus-menerus menjelaskan atau mempertahankannya." Perbedaan pendapat normal, tapi merendahkan tidak.

8. Si Risiko Tinggi, Tanpa Bantuan

Kecanduan, gangguan mental, atau perilaku kasar bisa membawa risiko nyata. Jika seseorang menolak pengobatan dan terus menunjukkan perilaku membahayakan, cinta tidak selalu berarti harus tetap terhubung.

Apa yang bisa dilakukan?
Buat rencana keselamatan bersama profesional. Jika tetap perlu kontak, batasi lewat pesan tertulis atau pertemuan di tempat umum. Jika sudah tidak mungkin, cukup katakan: "Demi kesehatan mental dan keselamatanku, aku tidak akan menjalin kontak lebih lanjut."

Pada akhirnya, memutus atau membatasi hubungan keluarga bukan tanda kebencian. Itu bisa menjadi bentuk kasih sayang paling jujur pada diri sendiri. Kedamaian adalah hak, bukan hadiah. Dan terkadang, jalan menuju ketenangan dimulai dengan satu kata: "Cukup."

Posting Komentar