Kesan Bintang Film Pangku

Film Pangku: Kehidupan yang Penuh Perjuangan dan Emosi
Film Pangku bukan hanya sekadar karya pertama Reza Rahadian sebagai sutradara, tetapi juga sebuah cerita yang menggambarkan perjuangan, empati, dan makna kemanusiaan. Dalam konferensi pers yang diadakan pada Selasa, 28 Oktober 2025 di Epicentrum XXI, para pemain utama berbagi pengalaman mereka selama proses syuting serta kesan terhadap film yang telah mendapatkan banyak penghargaan internasional dan nominasi di Festival Film Indonesia (FFI) 2025.
Peran yang Menggambarkan Perempuan Indonesia
Claresta Taufan, pemeran utama dalam film Pangku, mengungkapkan bahwa ia masih memproses semua apresiasi yang diterimanya. Perannya sebagai Sartika, seorang perempuan muda yang berjuang di tengah kerasnya kehidupan pesisir Pantura, membuatnya masuk dalam nominasi Piala Citra untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik. Ia juga meraih penghargaan Rising Star Award di Marie Claire Asia Star Awards dalam rangkaian Busan International Film Festival 2025.
“Saya sangat bersyukur atas apresiasi dari FFI dan Busan. Pencapaian ini bisa terjadi karena kepercayaan yang diberikan Kak Reza sebagai sutradara dan semua orang hebat di produksi Pangku,” ujar Claresta.
Menariknya, Claresta sempat berjemur bersama Christine Hakim demi mendapatkan kulit yang lebih gelap agar tampak natural sebagai warga pesisir. “Kami memang banyak kegiatan outdoor, jadi sekalian aja berjemur. Aku dan Ibu (Christine Hakim) suka sunbathing di sofa depan warung Bu Maya,” ungkapnya sambil tertawa.
Bagi Claresta, tokoh Sartika bukan hanya mewakili perempuan, tapi juga setiap individu yang sedang berjuang dalam hidupnya. “Jadi menurut aku, Sartika ini mewakilkan ibu atau pun perempuan, dan bukan hanya ibu atau perempuan yang sedang berjuang untuk hidupnya, tapi untuk semua pejuang yang ada di Indonesia dan seluruh dunia yang masih memperjuangkan hidupnya untuk hidup lebih baik. Jadi menurut aku Sartika itu ya kita,” katanya.
Seorang Aktris Senior dengan Pengalaman Menarik
Christine Hakim kembali menunjukkan kelasnya sebagai aktris senior lewat perannya sebagai Bu Maya, pemilik warung kopi yang penuh misteri. Ia juga mendapatkan nominasi Piala Citra 2025 untuk Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik. Namun bagi Christine, pengalaman terbesarnya datang dari melihat “anaknya”, Reza Rahadian, mengambil langkah besar sebagai sutradara.
“Saya tidak punya anak biologis, tapi saya merasa seperti seorang ibu bagi Reza. Waktu dia bilang mau menyutradarai Pangku dalam dua bulan, saya sempat ragu. Tapi ternyata saya salah. Dia memang anak ajaib,” ujar Christine.
Artis Christine Hakim ketika menghadiri pemutaran film Pangku di bioskop Cinema XXI Mall Epicentrum, Jakarta, 28 Oktober 2025. Tempo/Tony Hartawan
Christine juga mengakui bahwa Reza adalah sosok yang sangat perfeksionis di lokasi syuting. “Reza itu seperti Teguh Karya, tapi lebih gila lagi. Nafas saya pun diatur. Waktu adegan saya memangku Bayu malam-malam, saya tarik napas sedikit saja, dia langsung bilang, ‘Ibu, jangan tarik napas ya.’ Tapi karena perfeksionisnya itulah, hasil film ini jadi luar biasa,” ucapnya sambil tertawa.
Menurut Christine, proses syuting Pangku membuat seluruh pemain seperti sedang mengikuti akademi militer karena kedisiplinan dan ketelitian yang ditanamkan Reza. “Yang paling sengsara sih Claresta, tapi dia punya mental atlet,” ujarnya sambil memuji lawan mainnya itu.
Manusia yang Mencari Cinta di Tengah Kekurangan
Fedi Nuril yang memerankan Hadi, seorang sopir truk pengangkut ikan, menyoroti lapisan kemanusiaan dalam kisah Pangku. Ia membagi pendekatannya terhadap karakter ini menjadi tiga dimensi: fisik, emosional, dan spiritual.
Artis Claresta Taufan (kiri), dan Fedi Nuril ketika menghadiri pemutaran film Pangku di bioskop Cinema XXI Mall Epicentrum, Jakarta, 28 Oktober 2025. Tempo/Tony Hartawan
“Karakter-karakter di Pangku ini bahkan untuk memenuhi kebutuhan fisik saja sudah sulit. Tapi manusia itu memang dirancang untuk mencari kehangatan emosional juga. Itu sebabnya Hadi, sekuat apa pun dia, tetap merasa kesepian,” kata Fedi.
Menurutnya, film ini menggambarkan realitas kelompok masyarakat rentan yang berjuang bertahan hidup namun masih bisa menemukan keindahan dan kasih sayang di tengah keterbatasan. “Mungkin kita sepakat bahwa apa yang dilakukan Hadi tidak bisa dibenarkan, tapi kalau melihat dari sisi manusiawi, dia cuma mencoba memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, untuk dicintai dan mencintai,” ujarnya.
Aktor cilik Shakeel turut mencuri perhatian lewat perannya yang ringan namun menyentuh. Ia berbagi pengalaman seru saat syuting di bawah terik matahari pesisir. “Aku baru pertama kali main layangan, ternyata susah banget nerbanginnya. Panas banget, tapi seru,” katanya polos.
Dibintangi oleh Claresta Taufan, Christine Hakim, Fedi Nuril, dan Shakeel, Pangku merupakan produksi Gambar Gerak, rumah produksi milik Reza Rahadian dan Arya Ibrahim. Film ini menampilkan potret kerasnya realitas sosial dengan sentuhan humanisme yang kuat.
Posting Komentar