Auto-DRMA Tahan Banting! Bisnis Otomotif Merana, Astra-Triputra Cuan Besar

Kinerja Emiten Komponen Otomotif yang Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Industri
Di tengah tantangan yang dihadapi industri otomotif, beberapa emiten komponen otomotif masih mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan. Dua perusahaan besar, PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA), serta emiten lain seperti PT Garuda Metalindo Tbk. (BOLT), menunjukkan peningkatan laba bersih meskipun ada tekanan dari kondisi pasar yang lesu.
Pertumbuhan Laba Bersih AUTO dan DRMA
PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,56 triliun pada kuartal III/2025, meningkat 2,62% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih perseroan juga naik menjadi Rp14,8 triliun dalam sembilan bulan 2025, meningkat 4,51% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Astra Otoparts, Sophie Handili, menyatakan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan pelanggan terhadap kualitas produk dan layanan perusahaan. Ia menekankan komitmen untuk memperkuat kolaborasi, efisiensi rantai pasok, serta inovasi produk guna menjaga daya saing jangka panjang.
Sementara itu, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) juga berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 1,89% YoY menjadi Rp419,87 miliar pada kuartal III/2025. Pendapatan bersih DRMA meningkat 9,2% YoY menjadi Rp4,39 triliun dalam sembilan bulan 2025.
President Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini berkat strategi diversifikasi produk dan efisiensi di lini manufaktur yang memperkuat profitabilitas perusahaan.
Perkembangan BOLT dan GJTL
Selain AUTO dan DRMA, PT Garuda Metalindo Tbk. (BOLT) juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Laba bersih BOLT pada kuartal III/2025 mencapai Rp107,75 miliar, meningkat 63,09% YoY. Pendapatan bersih BOLT juga naik 13,55% YoY menjadi Rp1,25 triliun.
Namun, tidak semua emiten komponen otomotif mengalami pertumbuhan. PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) mengalami penurunan laba bersih sebesar 20,12% YoY menjadi Rp789,69 miliar. Penjualan bersih GJTL turun 2,38% YoY menjadi Rp13,12 triliun, yang turut memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
Tantangan Industri Otomotif Indonesia
Kondisi industri otomotif Indonesia saat ini masih lesu. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan mobil secara wholesales Januari-September 2025 hanya mencapai 561.819 unit, turun 11,3% YoY. Penjualan ritel juga turun 10,9% YoY menjadi 585.917 unit.
Analis Ina Sekuritas, Arief Machrus, memproyeksikan penurunan penjualan kendaraan roda empat sekitar 8% YoY pada tahun ini, di bawah target Gaikindo sebesar 850.000 unit. Pelemahan ini dipengaruhi oleh daya beli konsumen yang lemah dan suku bunga tinggi.
Strategi Meningkatkan Profitabilitas
Di tengah tantangan tersebut, sejumlah emiten komponen otomotif menjalankan strategi untuk mendongkrak profitabilitas. DRMA melakukan diversifikasi dengan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui unit bisnis Dharma Connect (DC). Selain itu, DRMA juga masuk ke after market dengan produk aki lithium dan BESS.
AUTO juga memperluas portofolio ke produk non otomotif seperti alat kesehatan dan komponen alat berat. Selain itu, AUTO mendukung ekosistem kendaraan listrik melalui produksi komponen x-EV dan infrastruktur pengisian daya kendaraan bermotor listrik.
Performa Saham Emiten Komponen Otomotif
Di tengah kondisi pasar yang sulit, harga saham beberapa emiten komponen otomotif tetap tumbuh. Harga saham DRMA menguat 18,48% ytd ke level Rp1.090 per lembar, sementara saham AUTO naik 8,7% ytd ke level Rp2.500 per lembar.
Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak sembilan sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk DRMA dengan target harga Rp1.260 per lembar dalam 12 bulan ke depan. Untuk AUTO, 11 sekuritas memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp2.778 per lembar.
Posting Komentar