5 Hewan Pemakan Plastik yang Membuat Ilmuwan Terkejut, Alam Balas Dendam!

Daftar Isi
Featured Image

Makhluk Kecil yang Menjadi Harapan Baru dalam Mengatasi Sampah Plastik

Dunia saat ini sedang menghadapi krisis besar, yaitu penumpukan sampah plastik yang terus meningkat. Setiap tahun, lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi dan sebagian besar berakhir di lingkungan alami, di mana mereka tidak dapat terurai selama ratusan tahun. Namun, alam ternyata memiliki solusi sendiri untuk menghadapi masalah ini. Beberapa makhluk kecil ternyata memiliki kemampuan unik untuk memakan atau mengurai plastik, menjadi harapan baru bagi pengelolaan limbah di bumi.

Berikut adalah beberapa makhluk kecil yang telah menarik perhatian ilmuwan karena kemampuannya dalam mengatasi masalah plastik:

1. Ulat Lilin (Waxworm) – Pemakan Plastik yang Viral

Ulat lilin ( Galleria mellonella ) awalnya dikenal sebagai hama sarang lebah. Namun, sebuah penelitian dari Universitas Cambridge menemukan bahwa mereka mampu mengurai polietilena (PE), salah satu jenis plastik yang paling sulit terurai, dalam waktu kurang dari 12 jam. Rahasia kekuatannya terletak pada enzim di liur mereka yang disebut polyethylene-degrading enzyme. Enzim ini mampu memecah struktur kimia plastik menjadi etilen glikol, senyawa yang lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Para ilmuwan kini sedang meneliti kemungkinan memproduksi enzim ini secara massal untuk digunakan dalam pengelolaan sampah plastik.

2. Ulat Tepung (Mealworm) – Pemakan Styrofoam yang Tahan Racun

Ulat tepung ( Tenebrio molitor ) biasanya dikenal sebagai makanan reptil. Namun, penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa mereka juga bisa mengurai styrofoam. Dalam uji coba, 100 ekor ulat tepung mampu mengurai hingga 39 mg polystyrene per hari tanpa efek racun. Bakteri di usus ulat tepung menghasilkan enzim pengurai yang mengubah plastik menjadi CO₂ dan biomassa aman. Dalam uji laboratorium, 90% dari plastik tersebut hilang dalam waktu 24 jam. Ini membuka peluang besar untuk sistem daur ulang biologis di masa depan.

3. Larva Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly) – Pengurai Plastik dan Limbah Organik

Larva Hermetia illucens dikenal sebagai pengurai sampah dapur yang efisien. Namun, penelitian di Science of The Total Environment menemukan bahwa mereka juga bisa mengonsumsi campuran plastik dan limbah organik. Mikroba usus larva ini menghasilkan enzim yang memecah rantai polimer plastik, terutama jenis polyethylene terephthalate (PET). Selain itu, suhu hangat yang dihasilkan dari metabolisme larva mempercepat reaksi kimia pemecahan plastik. Peneliti kini sedang mengembangkan konsep bio-reactor berbasis larva lalat tentara hitam sebagai solusi pengelolaan limbah berkelanjutan.

4. Cacing Tanah – Pembantu Alam yang Tak Disangka

Meski tidak memakan plastik secara langsung, cacing tanah berperan penting dalam mempercepat penguraian mikroplastik di tanah. Studi menunjukkan bahwa aktivitas menggali dan mencerna tanah oleh cacing dapat meningkatkan degradasi polietilena hingga 30% lebih cepat. Gerakan tubuh mereka membantu menghancurkan fragmen plastik menjadi partikel yang lebih kecil, sekaligus meningkatkan aktivitas mikroba pengurai di sekitar akar tanaman. Dengan demikian, mereka membantu ekosistem tanah ‘menelan’ plastik dengan lebih efisien.

5. Ngengat India – Si Pemakan Plastik di Dapur

Larva ngengat India ( Plodia interpunctella ) sering ditemukan di dapur rumah yang menyimpan beras atau tepung. Namun, penelitian menemukan bahwa bakteri usus larva ini bisa memecah polyethylene dan PVC—dua jenis plastik paling umum dalam kemasan makanan. Ilmuwan menemukan enzim baru bernama polyethylene-degrading oxidase, yang memutus rantai karbon panjang dalam plastik menjadi molekul sederhana. Ini membuka peluang besar dalam pemanfaatan bakteri ngengat sebagai agen bioremediasi plastik rumah tangga.

Temuan tentang hewan-hewan pemakan plastik ini membuktikan bahwa alam tidak pernah diam melihat kerusakan yang kita buat. Ia berevolusi, menyesuaikan diri, dan bahkan menemukan cara untuk ‘memakan’ dosa manusia yang berbentuk plastik. Namun, jangan salah persepsi—ini bukan alasan untuk terus membuang sampah sembarangan. Justru temuan ini menjadi alarm bahwa bumi sedang berjuang keras untuk bertahan. Tugas kita bukan hanya menonton, tapi ikut membantu, sekecil apa pun langkahnya. Sebab, kalau ulat dan cacing saja bisa membantu bumi bernapas lagi, masa kita tidak?

Posting Komentar