Tidak Ada Gejala Khas, Waspada Kanker Darah

Penyakit Kanker Darah yang Mengancam Kesadaran Masyarakat
Dalam beberapa tahun terakhir, Santyna Sanjaya berusaha mengabaikan rasa lelah yang tak kunjung hilang. Nyeri berulang yang ia alami dianggapnya sebagai bagian dari proses penuaan hingga suatu hari tubuhnya kolaps dan memaksa ia mencari jawaban medis. Saat mendapatkan diagnosis, ternyata rasa lelah yang dialaminya berasal dari multiple myeloma, salah satu jenis kanker darah yang sering hadir tanpa gejala jelas dan baru terdeteksi ketika sudah terlambat.
Kisah seperti Santyna bukan hal yang jarang terjadi. Di Indonesia, lebih dari 3.000 kasus baru multiple myeloma terdiagnosis setiap tahunnya. Sebagian besar pasien baru mengetahui kondisinya saat kerusakan organ sudah terjadi. Melihat situasi ini, Takeda bersama Multiple Myeloma Indonesia (MMI) dan Kementerian Kesehatan RI menggelar edukasi media yang bertepatan dengan Bulan Kesadaran Kanker Darah.
Data yang Mengkhawatirkan
Multiple myeloma merupakan jenis kanker darah yang berkembang pada sel plasma di sumsum tulang. Sel plasma berfungsi menghasilkan antibodi untuk melindungi tubuh dari virus dan bakteri. Pada kondisi ini, sumsum tulang memproduksi sel plasma abnormal atau sel mieloma yang tidak lagi berfungsi normal.
Menurut data GLOBOCAN 2022, multiple myeloma menempati urutan ke-19 dari seluruh jenis kanker di Indonesia, dengan estimasi 3.289 kasus baru per tahun atau sekitar 0,8 persen dari total insiden kanker nasional. Meski terdengar kecil secara persentase, angka tersebut mencerminkan bahwa ribuan keluarga dihadapkan pada tantangan hidup yang berat setiap tahun.
Dokter Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, menjelaskan bahwa kanker, termasuk multiple myeloma, masih menjadi salah satu beban besar kesehatan masyarakat di Indonesia. Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan pilihan pengobatan, termasuk akses terhadap obat-obatan, yang berpengaruh besar pada tingkat kesintasan pasien. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup pasien.
Faktor Risiko yang Harus Diwaspadai
Prof. Dr. Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD, KHOM, M.Epid, M.PdKed, FACP, FINASIM, FISQua, Konsultan Hematologi-Onkologi Medik, menjelaskan bahwa multiple myeloma merupakan ancaman serius karena sebagian besar kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini antara lain:
- Usia lanjut.
- Riwayat keluarga.
- Jenis kelamin laki-laki.
- Paparan radiasi atau bahan kimia tertentu.
- Berat badan berlebih.
- Kelainan sel plasma.
Penyakit ini menyerang area tubuh di mana sumsum tulang aktif seperti tulang belakang, tengkorak, panggul, tulang rusuk, dan sekitar bahu serta pinggul. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan tulang yang berujung pada patah tulang maupun kadar kalsium tinggi dalam darah. Gangguan produksi sel darah juga membuat pasien rentan mengalami anemia, infeksi berulang, perdarahan, bahkan komplikasi serius pada ginjal.
Pilihan Pengobatan yang Semakin Berkembang
Prof. Ikhwan menjelaskan bahwa saat ini pasien multiple myeloma di Indonesia memiliki beragam pilihan terapi yang bisa diberikan baik secara oral maupun infus. Pilihan tersebut mencakup kemoterapi, kortikosteroid, imunomodulator, hingga terapi inovatif seperti proteasome inhibitor. Seiring berkembangnya terapi, makin besar peluang pasien untuk mempertahankan kualitas hidup mereka.
Namun, ia menekankan pentingnya kesadaran untuk segera bertindak. Jika seseorang mulai merasakan gejala yang mencurigakan, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke tenaga medis. Makin cepat multiple myeloma didiagnosis, makin cepat pula tata laksana dapat dilakukan, sehingga pengobatan bisa diberikan dengan lebih tepat dan efektif.
Cerita Santyna Sanjaya sebagai Pasien Multiple Myeloma
Sekilas perjalanan hidup dengan multiple myeloma diceritakan oleh Santyna Sanjaya, seorang penyintas yang sudah beberapa tahun terakhir berjuang melawan penyakit ini. Ia mengaku awalnya tidak menyadari gejala yang muncul, seperti wajah pucat dan nyeri berulang. Namun, keluhan tersebut makin parah hingga membuatnya sulit bergerak, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk memeriksakan diri.
Setelah sekitar empat bulan pemeriksaan, barulah diagnosis ditegakkan, yaitu multiple myeloma. Kala itu, informasi yang tersedia masih sangat terbatas, sehingga Santyna bahkan sempat mencari second opinion ke luar negeri demi memahami kondisi yang ia alami. Menurutnya, perjalanan sebagai pasien multiple myeloma tak lepas dari beban besar lain yang ikut menyertainya, mulai dari biaya pengobatan, rasa cemas, hingga perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Meski begitu, ia tetap merasa bersyukur karena makin banyak dukungan hadir, baik dari keluarga, komunitas, maupun organisasi pasien. Harapan sederhananya adalah agar akses terhadap pengobatan yang lebih baik semakin luas, sehingga lebih banyak pasien bisa menjalani hidup dengan kualitas yang layak dan penuh harapan. Untuk sesama pejuang multiple myeloma, ia berharap bisa mendapatkan hasil yang optimal dengan mengikuti anjuran pengobatan yang diberikan oleh dokter sampai tuntas.
Kisah pasien dan fakta seputar multiple myeloma menunjukkan betapa pentingnya deteksi dini, edukasi, serta akses pada terapi yang tepat. Dengan meningkatnya kesadaran, pasien memiliki peluang lebih besar untuk menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
Posting Komentar