Penelitian: Anak yang Tidak Dapat ASI Eksklusif Lebih Rentan Alami Pubertas Dini

Manfaat Menyusui yang Lebih Dari Sekadar Nutrisi
Menyusui tidak hanya memberikan nutrisi yang lengkap bagi bayi, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan perkembangan mereka. Baru-baru ini, sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berisiko lebih tinggi mengalami pubertas dini. Hal ini menegaskan pentingnya pemberian ASI secara eksklusif dalam memengaruhi kesehatan anak di masa depan.
Manfaat ASI bagi ibu dan bayi sudah sangat dikenal. Selain menjadi sumber makanan bergizi utama untuk bayi sejak lahir, ASI juga memberikan perlindungan imun dari berbagai penyakit serta mengurangi risiko obesitas. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa anak-anak yang tidak mendapat ASI eksklusif selama empat hingga enam bulan pertama kehidupan cenderung lebih rentan mengalami pubertas dini.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Korea Selatan melibatkan lebih dari 300 ribu anak antara tahun 2007 hingga 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang disusui secara eksklusif memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami pubertas dini. Pubertas dini, atau central precocious puberty, merupakan kondisi di mana anak mulai mengalami perubahan fisik dan hormonal lebih awal dari usia normal. Kondisi ini dikaitkan dengan risiko kesehatan jangka panjang seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, serta masalah mental seperti depresi dan kecemasan.
Para ahli percaya bahwa anak-anak yang diberi ASI eksklusif cenderung lebih jarang mengalami obesitas pada masa kanak-kanak. Obesitas adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi pada pubertas dini. Oleh karena itu, pemberian ASI dapat menjadi langkah penting dalam mencegah kondisi tersebut.
Angka Pemberian ASI Eksklusif di Berbagai Negara
Di Korea Selatan, sekitar 46 persen bayi mendapatkan ASI eksklusif, sedangkan lebih dari sepertiga mendapatkan susu formula, dan hampir 20 persen mendapatkan keduanya. Penelitian ini menemukan bahwa anak laki-laki yang hanya diberi susu formula memiliki risiko pubertas dini sebesar 16 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki yang hanya diberi ASI. Sementara itu, risiko untuk anak perempuan meningkat hingga 60 persen.
Peneliti menyatakan bahwa meskipun hasil ini menunjukkan hubungan antara pemberian susu formula dan pubertas dini, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan sebab-akibat. Faktor lain seperti pola tidur, aktivitas fisik, dan paparan lingkungan juga berperan dalam meningkatkan risiko obesitas dan pubertas dini.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Menyusui
Dr Sonia Anand, wakil presiden asosiasi kesehatan global di McMaster University, menekankan bahwa menyusui memiliki banyak manfaat kesehatan bagi anak-anak. Namun, ia juga menyatakan bahwa tidak semua ibu dapat menjalani menyusui secara eksklusif karena berbagai tantangan. Oleh karena itu, dukungan dari masyarakat sangat penting.
Beberapa langkah yang dapat diambil termasuk kebijakan cuti orang tua yang lebih ketat, ruang khusus untuk menyusui di tempat kerja, serta layanan pendukung laktasi. Dr Lin Yang dan Shengxu Li menulis dalam komentar jurnal bahwa penyakit dimulai sejak dini, begitu pula pencegahannya. Maka dari itu, tindakan preventif harus dilakukan sejak awal kehidupan anak.
Di Kanada, sekitar 91 persen orang tua mulai menyusui, namun hanya 38 persen yang melakukan penyusuan eksklusif selama enam bulan. Alasan menghentikan menyusui antara lain karena kurangnya produksi ASI, kesulitan menyusui, atau anak yang menyapih diri sendiri. Dr Anand menekankan bahwa tidak seharusnya ibu yang mencoba menyusui tetapi gagal diperlakukan secara negatif.
Pilihan Lain untuk Mencegah Obesitas dan Pubertas Dini
Selain menyusui, gaya hidup sehat juga berperan penting dalam mencegah obesitas dan pubertas dini. Membatasi konsumsi makanan cepat saji, memasak lebih banyak sayuran, serta mengurangi waktu menonton layar dapat membantu menjaga berat badan anak. Selain itu, paparan polutan lingkungan seperti pengganggu endokrin juga perlu diperhatikan, meski data tentang hal ini belum sepenuhnya valid.
Penelitian Anand menunjukkan bahwa menyusui selama setidaknya enam bulan dikaitkan dengan kadar lemak tubuh yang lebih rendah pada anak usia 3 tahun. Meski belum ada bukti pasti bahwa susu formula langsung menyebabkan pubertas dini, hubungan antara pemberian susu formula dan risiko pubertas dini terlihat cukup kuat.
Dengan semakin tingginya biaya susu formula, terutama di daerah seperti Sudbury, Ontario, penting bagi keluarga untuk mempertimbangkan alternatif lain. Penelitian besar lainnya yang menunjukkan temuan serupa akan membantu memperkuat bukti ilmiah ini. Selain itu, penelitian mengenai gen yang terkait dengan pubertas prekokoks juga bisa memberikan wawasan tambahan.
Posting Komentar